Adab Bertamu · Uncategorized

Adab Bertamu Ke Rumah Orang

Adab Memuliakan Tamu Dalam Islam.jpg

 Pengertian Bertamu

Bertamu adalah salah satu cara untuk menyambung tali persahabatan yang dianjurkan oleh Islam. Islam memberi kebebasan untuk umatnya dalam bertamu. Tata krama dalam bertamu harus tetap dijaga agar tujuan bertamu itu dapat tercapai. Apabila tata krama ini dilanggar maka tujuan bertamu justru akan menjadi rusak, yakni merenggangnya hubungan persaudaraan. Islam telah memberi bimbingan dalam bertamu, yaitu jangan bertamu pada tiga waktu aurat.

Yang dimaksud dengan tiga waktu aurat ialah sehabis zuhur, sesudah isya’, dan sebelum subuh. Allah SWT berfirman:

 يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذينَ مَلَكَتْ أَيْمانُكُمْ وَ الَّذينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاةِ الْفَجْرِ وَ حينَ تَضَعُونَ ثِيابَكُمْ مِنَ الظَّهيرَةِ وَ مِنْ بَعْدِ صَلاةِ الْعِشاءِ ثَلاثُ عَوْراتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلا عَلَيْهِمْ جُناحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلىبَعْضٍ كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ الْآياتِ وَ اللهُ عَليمٌ حَكيمٌ

Artinya: “hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’.(Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS An Nur : 58)

      Ketiga waktu tersebut dikatakan sebagai waktu aurat karena waktu-waktu itu biasanya digunakan. Lazimnya, orang yang beristirahat hanya mengenakan pakaian yang sederhana (karena panas misalnya) sehingga sebagian dari auratnya terbuka. Apabila budak dan anak-anak kecil saja diharuskan meminta izin bila akan masuk ke kamar ayah dan ibunya, apalagi orang lain yang bertamu. Bertamu pada waktu-waktu tersebut tidak mustahil justru akan menyusahkan tuan rumah yang hendak istirahat, karena terpaksa harus berpakaian rapi lagi untuk menerima kedatangan tamunya.

Adab Bertamu

  1. Berpakaian yang rapi dan pantas

Bertamu dengan memakai pakaian yang pantas berarti menghormati tuan rumah dan dirinya sendiri. Tamu yang berpakaian rapi dan pantas akan lebih dihormati oleh tuan rumah, demikian pula sebaliknya. Allah SWT berfirman : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…. ” (QS Al Isra : 7)

  1. Memberi isyarat dan salam ketika datang

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An Nur : 27)

 

  1. Jangan mengintip ke dalam rumah

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Dari Sahal bin Saad ia berkata: Ada seorang lelaki mengintip dari sebuah lubang pintu rumah Rasullulah SAW  dan pada waktu itu beliau sedang menyisir rambutnya. Maka Rasullulah SAW bersabda: ”Jika aku tahu engkau mengintip, niscaya aku colok matamu. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk meminta izin itu adalah karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR Bukhari)

  1. Minta izin masuk maksimal sebanyak tiga kali

Jika telah tiga kali namun belum ada jawaban dari tuan rumah, hendaknya pulang dahulu dan datang pada lain kesempatan.

anak-laki-laki-bertamu-mengetuk-pintu

  1. Memperkenalkan diri sebelum masuk

Apabila tuan rumah belum tahu/belum kenal, hendaknya tamu memperkenalkan diri secara jelas, terutama jika bertamu pada malam hari. Diriwayatkan dalam sebuah hadits yang artinya: “Dari Jabir ra la berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW lalu aku mengetuk pintu rumah beliau. Nabi SAW bertanya: “Siapakah itu?” Aku menjawab: “Saya” Beliau bersabda: “Saya, saya…!” seakan-akan beliau marah.” (HR Bukhari)  

Kata “Saya” belum memberi kejelasan. Oleh sebab itu, tamu hendaknya menyebutkan nama dirinya secara jelas sehingga tuan rumah tidak ragu lagi untuk

menerima kedatangannya.

  1. Tamu lelaki dilarang masuk kedalam rumah apabila tuan rumah hanya seorang wanita

Dalam hal ini, perempuan yang berada di rumah sendirian hendaknya juga tidak memberi izin masuk tamunya. Mempersilahkan tamu lelaki ke dalam rumah sedangkan ia hanya seorang diri sama halnya mengundang bahaya bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, tamu cukup ditemui diluar saja.

  1. Masuk dan duduk dengan sopan

Setelah tuan rumah mempersilahkan untuk masuk, hendaknya tamu masuk dan duduk dengan sopan di tempat duduk yang telah disediakan. Tamu hendaknya membatasi diri, tidak memandang kemana-mana secara bebas. Pandangan yang tidak dibatasi (terutama bagi tamu asing) dapat menimbulkan kecurigaan bagi tuan rumah. Tamu dapat dinilai sebagai orang yang tidak sopan, bahkan dapat pula dikira sebagai orang jahat yang mencari-cari kesempatan. Apabila tamu tertarik kepada sesuatu (hiasan dinding misalnya), lebih ia berterus terang kepada tuan rumah bahwa ia tertarik dan ingin memperhatikannya.

  1. Menerima jamuan tuan rumah dengan senang hati

Apabila tuan rumah memberikan jamuan, hendaknya tamu menerima jamuan tersebut dengan senang hati, tidak menampakkan sikap tidak senang terhadap jamuan itu. Jika sekiranya tidak suka dengan jamuan tersebut, sebaiknya berterus terang bahwa dirinya tidak terbiasa menikmati makanan atau minuman seperti itu. Jika tuan rumah telah mempersilahkan untuk menikmati, tamu sebaiknya segera menikmatinya, tidak usah menunggu sampai berkali-kali tuan rumah mempersilahkan dirinya.

  1. Mulailah makan dengan membaca basmalah dan diakhiri dengan membaca hamdalah

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang artinya: “Jika seseorang diantara kamu hendak makan maka sebutlah nama Allah, jika lupa menyebut nama Allah pada awalnya, hendaklah membaca: Bismillahi awwaluhu waakhiruhu.” (HR Abu Daud dan Turmudzi)

  1. Makanlah dengan tangan kanan, ambilah yang terdekat dan jangan memilih

Islam telah memberi tuntunan bahwa makan dan minum hendaknya dilakukan dengan tangan kanan, tidak sopan dengan tangan kiri (kecuali tangan kanan berhalangan). Cara seperti ini tidak hanya dilakukan saat bertamu saja. Melainkan dalam berbagai suasana, baik di rumah sendiri maupun di rumah orang lain.

  1. Bersihkan piring, jangan biarkan sisa makanan berceceran

Sementara ada orang yang merasa malu apabila piring yang habis digunakan untuk makan tampak bersih, tidak ada makanan yang tersisa padanya. Mereka khawatir dinilai terlalu lahap. Islam memberi tuntunan yang lebih bagus, tidak sekedar mengikuti perasaan manusia yang terkadang keliru. Tamu yang menggunakan piring untuk menikmati hidangan tuan rumah, hendaknya piring tersebut bersih dari sisa makanan. Tidak perlu menyisakan makanan pada piring yang bekas dipakainya yang terkadang menimbulkan rasa jijik bagi yang melihatnya.

  1. Segeralah pulang setelah selesai urusan

Kesempatan bertamu dapat digunakan untuk membicarakan berbagai permasalahan hidup. Namun demikian, pembicaraan harus dibatasi tentang permasalahan yang penting saja, sesuai tujuan berkunjung. Hendaknya dihindari pembicaraan yang tidak ada ujung pangkalnya, terlebih membicarakan orang lain. Tamu yang bijaksana tidak suka memperpanjang waktu kunjungannya, ia tanggap terhadap sikap tuan rumah. Apabila tuan rumah telah memperhatikan jam, hendaknya tamu segera pamit karena mungkin sekali tuan rumah akan segera pergi atau mengurus masalah lain. Apabila tuan rumah menghendaki tamunya untuk tetap tinggal dahulu, hendaknya tamu pandai-pandai membaca situasi, apakah permintaan itu sungguh-sungguh atau hanya sekedar pemanis suasana. Apabila permintaan itu sungguh-sungguh maka tiada salah jika tamu memperpanjang masa kunjungannya sesuai batas kewajaran.

VIDEO TENTANG ADAB BERTAMU

Advertisements
UMROH · Uncategorized

UMROH

index

Pengertian Umroh

Pengertian umroh dari segi bahasa ialah berkunjung. Artinya, umroh ini dapat juga dikatakan bahwa umroh ialah suatu perbuatan menyengaja dengan mendatangi tempat yang biasa selalu dikunjungi. Hal ini tersebut karena umroh boleh untuk dilakukan kapan pun (tanpa terikat waktu, seperti halnya ibadah haji yang hanya dilakukan pada bulan Dzulhijjah saja setiap setahun sekali).

Pengertian umroh secara syar’i dan terminologi fiqih. Pengertian umroh memiliki artian mengunjungi kota Makkah untuk melaksanakan ibadah (seperti thawaf dan sa’i) dengan melakukan tata cara tertentu. Atau istilah lainnya datang ke Baitullah untuk beribadah umroh dengan rukun rukun dan syarat syarat yang telah ditentukan.

Umroh berbeda dengan ibadah haji yang boleh dilakukan hanya sekali saja, menunaikan umroh boleh berulang-ulang kali, akan tetapi, hukumnya tetap wajib hanya sekali dalam seumur hidup. Jika seseorang itu mampu dan dapat menunaikannya berulang kali hal ini diperbolehkan. Sebabnya dalam ibadah umroh terdapat keutamaan-keutamaan sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Dari umroh ke umroh adalah penghapus dosa antara keduanya”.

Syarat Wajib Umroh

Syarat-syarat wajib umroh sama seperti syarat-syarat haji, yaitu
a. Islam
Bagi orang yang bukan beragama Islam tidak wajib umroh atau tidak sah`
b. Berakal
Tidak wajib umroh atas orang gila dan orang bodoh.
c. Baligh
Tidak wajib umroh atas anak-anak, dan diwajibkan sampai umur 15 tahun atau balig dengan tanda-tanda lain.
d. Kuasa
Tidak wajib umroh atas orang yang tidak mampu.

Rukun Umroh

Rukun umroh ada lima, yaitu :
a. Ihram serta berniat
Berniat memulai mengerjakan umrah
b. Tawaf (berkeliling) ka’bah
Syarat thawaf
Dari Jabir “bahwasannya Nabi besar SAW ketika sampai di Mekkah, telah mendekat ke hajar aswad, kemudian beliau sapu hajar aswad itu dengan tangan beliau, kemudia beliau berjalan ke sebelah kanan beliau; berjalan cepat tiga kali berkeliling dan berjalan biasa empat kali berkeliling” Riwayat Muslim dan Nasai
Dapat disimpulkan bahwa syarat thawaf ialah :
– Tertutup aurat
– Suci dari hadas dan najis
– Ka’bah hendaknya disebelah kiri orang yang thowaf
– Hendaknya thowaf dimulai dari hajar aswad
– Hendaknya thowaf dikerjakan sebanyak tujuh kali
– Thowaf hendaknya di dalam masjid, karena Rasulullah SAW melakukan thowaf dalam masjid.
c. Sa’I
Ialah berlari-lari kecil di antara dua bukit Shafa dan Marwah
Syarat Sai
– Dimulai dari bukit Shofa dan disudahi di bukit Marwah
– Dilakukan tujuh kali
– Dilakukan sesudah thowaf
d. Bercukur atau bergunting
Sekurang kurangnya tiga helai rambut
e. Tertib
Melaksanakan rukun-rukun yang empat diatas dengan tertib.

Wajib Umroh

  1. Ihram dari miqot-nya
    Tempat yang ditentukan dan masa tertentu
  2. Thawaf wada’
    Thawaf sewaktu akan meninggalkan Mekkah

Sunnah Umroh

  1. Membaca Talbiyah
    Membaca dengan suara yang keras bagi laki-laki, terkecuali perempuan, hendaklah diucapkan sekedar terdengar oleh telinganya sendiri.
    Lafal Talbiyah :
    لَبَيْكَ اللَّهُمَّ لَبَيْكَ لَبَيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَيْكَ اِنَّ اْلحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَاْلمُلْكَ لَكَ لَاشَرِيْكَ لَكَ
  2. Membaca do’a setelah membaca talbiyah
    Berdo’a meminta keridaan Allah, dan supaya diberi surga dan minta perlindungan kepada-Nya dari siksa api neraka.
  3. Membaca dzikir sewaktu thowaf
  4. Shalat sunnah dua rakaat setelah thawaf

 Tata Cara Umroh

  1. Menuju tempat miqat (tempat mulai niat umroh dan berpakaian ihram) di Bir Ali. Boleh juga sejak di Madinah mulai memakai pakaian ihrom, tetapi niatnya tetap dimulai di Bir Ali. Setelah berganti pakaian, shalat sunnah ihram 2 rakaat.
  2. Sejak memakai pakaian ihrom, tidak boleh menggunakan wangi-wangian, mandi memakai sabun, sikat gigi pakai odol, memakai peci atau pakaian lain, dan berhubungan suami isteri.
  3. Sepanjang perjalanan menuju ke Makkah, membaca kalimat talbiyah sebanyak-banyaknya
  4. Sesampai di Masjidil Haram, tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali.
    – Putaran 1-3 berlari-lari kecil
    – Putaran 4-7 berjalan kecil
    – Tempat awal mulai tawaf : garis lurus (tapi garisnya tidak ada) antara pintu Ka’bah dan tanda lampu yang di pasang di sisi masjid.
    – Pada batas ini, sambil melihat ke Ka’bah, kita melambaikan tangan 3 kali sambil mengucapkan : “Bismillah, Allahu Akbar”.
    – Sepanjang tawaf membaca do’a. Untuk mudahnya bisa membaca do’a
  5. Shalat 2 rakaat di depan makam Ibrahim.
  6. Minum air zam-zam. Sebelumnya berdoa terlebih dahulu.
  7. Sa’i antara Shofa dan Marwa, 7 kali bolak balik.
    – Cara menghitungnya : dari Shofa ke Marwa 1, Marwa ke Shofa 2, dan seterusnya, berakhir di Marwa.
    – Sa’i dilakukan dengan berjalan, tapi pada batas antara 2 lampu, berlari-lari kecil.
  8. Cukur rambut.
    – Boleh cukur sebagian.
    – Lebih afdhol, cukur semua. (Biasanya, saat sampai di Marwa pada putaran terakhir, cukur sebagian dulu tanda selesai umroh. Pada saat keluar masjid, ketemu tukang cukur, baru cukur semua).DSCN1700

Perbedaan Pendapat tentang Hukum Umroh

Ada dua pendapat tentang hukum umroh, yaitu :
1. Hukum umroh wajib/fardhu[4]
Ulama yang mewajibkan hhukum umroh adalah imam Syafi’I dan imam Hambali. Adapun dalil-dalil yang dijadikan dasarnya adalah :

وَأَتِمُوااْلحَجِّ وَاْلعُمْرَةَ لله

Artinya : “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah” (Qs. Al-Baqaroh;169)
Bersandar kepada dalil tersebut imam Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa kedudukan umroh itu bersifat wajib dan minimal dilakukan seumur hidup sekali bbagi yang mampu. Rujukan fardhunya tersebut terdapat disurat Al-Baqaroh yang disebutkan diatas yang menegaskan tentang “sempunakanlah” itulah yang menjelaskan pendapat bahwa umroh mempunyai hukum fardhu ‘ain.
2. Hukum Umroh Sunnah
Imam Maliki dan Imam Hanafi berpendapat bahwa ibadah umroh hukumnya sunnah. Karena yang dimaksud ‘ammar dalam ayat(Al-baqaroh;196) tersebut adalah untuk sunnah mu’akkad (sunah yang dipentinngkan)

Video tentang tata cara umroh

 

 

Ciri-ciri Sifat Riya' · Uncategorized

Ciri-ciri dan Cara Menghindari Sifat Riya’

Ciri-Ciri Riya

Riya merupakan penyakit hati yang tidak dapat dilihat oleh penglihatan. Meskipun demikian, orang yang memiliki sifat riya dapat dilihat dari ciri-cirinya. Di antara ciri-ciri sifat riya sebagai berikut.

  1. Merasa senang dan ringan dalam melaksanakan ibadah jika dilihat orang lain.
  2. Merasa senang jika perbuatannya mendapat pujian dari orang lain.
  3. Ada perubahan sikap, gaya bicara, dan penampilan jika berhadapan dengan penguasa.

Berhati-hatilah jika salah satu ciri riya yang telah disebutkan terdapat dalam diri. Jika salah satu ciri riya terdapat dalam diri, benahi niat bahwa ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah Swt. semata. Perbaiki niat jika rasa senang telah terasa ketika perbuatan yang kita lakukan mendapat pujian orang lain.

inilah 4 Cara Menghindari Perilaku Riya:

Riya bukanlah penyakit yang tidak dapat diobati. Riya dapat dihilangkan sedikit demi sedikit dan dihindari dengan cara melakukan hal-hal berikut.

  1. Menghilangkan Sebab-Sebab Riya

Seseorang berbuat riya disebabkan oleh hal-hal tertentu. Untuk menghilangkan dan menghindari riya, penyebab riya harus dihilangkan. Jika penyebab riya tidak dihilangkan, riya tidak akan pernah hilang dari dalam hati. Membiarkan penyebab riya bersarang dalam hati sama dengan membiarkan riya tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, seseorang yang ingin menghilangkan riya dari hati harus menghilangkan penyebabnya. Jika sebab-sebab riya telah hilang, perilaku riya akan hilang dengan sendirinya. (Sa’id Hawwa. 2006. Halaman 209)

  1. Mengikhlaskan Ibadah untuk Allah Swt Semata

Manusia dikaruniai Allah Swt. nikmat yang berlimpah. Hidup dan kehidupan merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, pantaslah jika manusia melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. sebagai wujud rasa syukur atas karunia dan nikmat-Nya. Ibadah harus dilaksanakan dengan ikhlas hanya untuk Allah Swt. semata. Hidup, mati, dan ibadah hanya untuk Allah Swt., zat yang mengaruniakan hidup dan kehidupan. Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas akan menhindarkan diri dari Riya.

4 Cara Menghindari Perilaku Riya

  1. Berusaha Melawan Bisikan Setan

Seseorang yang melaksanakan ibadah harus berusaha untuk melawan bisikan setan. Setan selalu mengajak manusia untuk berbuat buruk, termasuk riya. Bisikan setan harus terus-menerus dilawan karena mereka tidak berhenti menggoda sekejap pun. Jangan sekalikali menuruti ajakan setan sebab ia akan menyengsarakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Jika setan telah mengajak untuk berbuat riya, kita harus segera memperbaiki niat dan mengembalikannya hanya untuk Allah Swt. semata.

  1. Menyadari bahwa Hanya Allah Swt. yang Memberi Balasan

Setiap amal manusia akan mendapat balasan yang sesuai. Amal kebajikan akan mendapat balasan yang baik. Amal buruk akan mendapat balasan buruk pula. Kesadaran bahwa hanya Allah Swt. yang dapat memberi balasan merupakan cara menghilangkan dan menghindari riya dari hati. Manusia tidak akan mampu memberi balasan terhadap amal yang dilaksanakan oleh sesamanya. Hanya Allah Swt. yang mampu memberi balasan terhadap amal perbuatan makhluk-Nya.

Ciri Sifat Nifaq · Uncategorized

Ciri-ciri dan Cara Menghindari Sifat Nifaq

Perlu diketahui bahwa munafiq pandai bersilat lidah dan memutar-balikkan persoalan sehingga banyak orang terpedaya karenanya. Kepandaian bersilat lidah sebagai hasil dari sikapnya yang selalu mendua (bermuka dua). Disamping itu, munafiq juga suka mengobral janji terhadap orang lain, tetapi janji-janjinya banyak yang dingkari sendiri. Inilah ciri-ciri sifat nifaq:

  1. Mengaku beriman tapi hatinya tetap dalam kekafiran.
  2. Jika berbicara, suka berdusta
  3. Jika berjanji, selalu mengingkari
  4. Jika di percayai, ia menghianati
  5. Bermuka dua dan pandai bersilat lidah

Menghindarkan diri dari sifat nifaq harus menjadi watak setiap muslimin dan muslimat. Adapun upaya untuk menghindarkan diri dari sifat nifaq antara lain selalu menyadari bahwa:

  • Nifaq merupakan larangan agama yang harus dijauhi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Nifaq akan merugikan diri sendiri dan orang lain sehingga dibenci dalam kehidupan masyarakat.
  • Nifaq tidak sesuai dengan hati nurani manusia (termasuk hati munafiq sendiri)
  • Kejujuran menentramkan hati dan senantiasa disukai dalam pergaulan
Akibat Riya' dan Nifaq · Uncategorized

Akibat dari sifat riya’ dan nifaq

A.  Akibat buruk dari sifat riya :

Semua pelaksanaan ajaran agama adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik yang berupa pelaksanaan perintah maupun meninggalkan larangan. Setiap pelanggaran terhadap larangan agama, pasti berakibat buruk bagi pelakunya. Adapun akibat buruk riya antara lain sebagai berikut:

  1. Menghapus pahala amal baik, sebaimana dijelaskan dalam Q.S. Al Baqarah ayat 262: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah: 262).
  2. Menimbulkan kesempitan hidup
  3. Menjadikan amal ibadah yg baik menjadi, batal, berubah buruk, dan berbuah dosa
  4. Terjebak sifat sombong yang menyulitkan diri sendiri
  5. Menghilangkan keimanan dan mendapat siksa akhirat

B. Akibat dari sifat nifaq:

  1. Tercela dalam pandangan allah swt dan sesama manusia
  2. Mendapat siksa yang amat pedih di hari akhir dalam Q.S An-Nisa ayat 145
  3. Menimbulkan kekecewaan hati dan fitnah karena ucapan dan perbuatannya yang tidak menentu

 

Uncategorized

KI & KD

KI:  Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

KD: 3.3 Memahami akhlak tercela riya’ dan nifaq

Uncategorized

Pengembangan Bahan Ajar

Assalamualaikum.Wr.Wb

Selamat datang di blog pertama saya. ini pertama kali saya buat blog di wordpress, jadi apabila ada kesalahan atau kekeliruan mohon maaf.

saya membuat blog pertama ini tentang pemahaman mengenai akhlak tercela yakni riya’ dan nifaq. saya berusaha menyelesaikan blog ini terutama untuk menyelesaikan tugas mata kuliah pengembangan bahan ajar. Nah, pengembangan bahan ajar ini terpacu pada PMA (Keputusan Menteri Agama) Nomor : 165 Tahun 2014 dengan bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menuju kemampuan dalam berfikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial masyarakat.

penempuhan bahan ajar kali ini saya ingin menjelaskan materi Akidah Akhlak tentang “MEMAHAMI AKHLAK TERCELA RIYA’ DAN NIFAQ” dimana dalam penjelasan tersebut kita bisa memahami bagaimana sifat riya’ dan nifaq, dan juga bisa menghindari sifat tercela tersebut. Bila terdapat banyak kesalahan yang ada didalamnya, mohon dimaklumi.

wassalaamualaikum wr.wb