Uncategorized

Pengembangan Bahan Ajar

Assalamualaikum.Wr.Wb

Selamat datang di blog pertama saya. ini pertama kali saya buat blog di wordpress, jadi apabila ada kesalahan atau kekeliruan mohon maaf.

saya membuat blog pertama ini tentang pemahaman mengenai akhlak tercela yakni riya’ dan nifaq. saya berusaha menyelesaikan blog ini terutama untuk menyelesaikan tugas mata kuliah pengembangan bahan ajar. Nah, pengembangan bahan ajar ini terpacu pada PMA (Keputusan Menteri Agama) Nomor : 165 Tahun 2014 dengan bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menuju kemampuan dalam berfikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial masyarakat.

penempuhan bahan ajar kali ini saya ingin menjelaskan materi Akidah Akhlak tentang “MEMAHAMI AKHLAK TERCELA RIYA’ DAN NIFAQ” dimana dalam penjelasan tersebut kita bisa memahami bagaimana sifat riya’ dan nifaq, dan juga bisa menghindari sifat tercela tersebut. Bila terdapat banyak kesalahan yang ada didalamnya, mohon dimaklumi.

wassalaamualaikum wr.wb

 

Ciri-ciri Sifat Riya' · Uncategorized

Ciri-ciri dan Cara Menghindari Sifat Riya’

Ciri-Ciri Riya

Riya merupakan penyakit hati yang tidak dapat dilihat oleh penglihatan. Meskipun demikian, orang yang memiliki sifat riya dapat dilihat dari ciri-cirinya. Di antara ciri-ciri sifat riya sebagai berikut.

  1. Merasa senang dan ringan dalam melaksanakan ibadah jika dilihat orang lain.
  2. Merasa senang jika perbuatannya mendapat pujian dari orang lain.
  3. Ada perubahan sikap, gaya bicara, dan penampilan jika berhadapan dengan penguasa.

Berhati-hatilah jika salah satu ciri riya yang telah disebutkan terdapat dalam diri. Jika salah satu ciri riya terdapat dalam diri, benahi niat bahwa ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah Swt. semata. Perbaiki niat jika rasa senang telah terasa ketika perbuatan yang kita lakukan mendapat pujian orang lain.

inilah 4 Cara Menghindari Perilaku Riya:

Riya bukanlah penyakit yang tidak dapat diobati. Riya dapat dihilangkan sedikit demi sedikit dan dihindari dengan cara melakukan hal-hal berikut.

  1. Menghilangkan Sebab-Sebab Riya

Seseorang berbuat riya disebabkan oleh hal-hal tertentu. Untuk menghilangkan dan menghindari riya, penyebab riya harus dihilangkan. Jika penyebab riya tidak dihilangkan, riya tidak akan pernah hilang dari dalam hati. Membiarkan penyebab riya bersarang dalam hati sama dengan membiarkan riya tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, seseorang yang ingin menghilangkan riya dari hati harus menghilangkan penyebabnya. Jika sebab-sebab riya telah hilang, perilaku riya akan hilang dengan sendirinya. (Sa’id Hawwa. 2006. Halaman 209)

  1. Mengikhlaskan Ibadah untuk Allah Swt Semata

Manusia dikaruniai Allah Swt. nikmat yang berlimpah. Hidup dan kehidupan merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, pantaslah jika manusia melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. sebagai wujud rasa syukur atas karunia dan nikmat-Nya. Ibadah harus dilaksanakan dengan ikhlas hanya untuk Allah Swt. semata. Hidup, mati, dan ibadah hanya untuk Allah Swt., zat yang mengaruniakan hidup dan kehidupan. Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas akan menhindarkan diri dari Riya.

4 Cara Menghindari Perilaku Riya

  1. Berusaha Melawan Bisikan Setan

Seseorang yang melaksanakan ibadah harus berusaha untuk melawan bisikan setan. Setan selalu mengajak manusia untuk berbuat buruk, termasuk riya. Bisikan setan harus terus-menerus dilawan karena mereka tidak berhenti menggoda sekejap pun. Jangan sekalikali menuruti ajakan setan sebab ia akan menyengsarakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Jika setan telah mengajak untuk berbuat riya, kita harus segera memperbaiki niat dan mengembalikannya hanya untuk Allah Swt. semata.

  1. Menyadari bahwa Hanya Allah Swt. yang Memberi Balasan

Setiap amal manusia akan mendapat balasan yang sesuai. Amal kebajikan akan mendapat balasan yang baik. Amal buruk akan mendapat balasan buruk pula. Kesadaran bahwa hanya Allah Swt. yang dapat memberi balasan merupakan cara menghilangkan dan menghindari riya dari hati. Manusia tidak akan mampu memberi balasan terhadap amal yang dilaksanakan oleh sesamanya. Hanya Allah Swt. yang mampu memberi balasan terhadap amal perbuatan makhluk-Nya.

Ciri Sifat Nifaq · Uncategorized

Ciri-ciri dan Cara Menghindari Sifat Nifaq

Perlu diketahui bahwa munafiq pandai bersilat lidah dan memutar-balikkan persoalan sehingga banyak orang terpedaya karenanya. Kepandaian bersilat lidah sebagai hasil dari sikapnya yang selalu mendua (bermuka dua). Disamping itu, munafiq juga suka mengobral janji terhadap orang lain, tetapi janji-janjinya banyak yang dingkari sendiri. Inilah ciri-ciri sifat nifaq:

  1. Mengaku beriman tapi hatinya tetap dalam kekafiran.
  2. Jika berbicara, suka berdusta
  3. Jika berjanji, selalu mengingkari
  4. Jika di percayai, ia menghianati
  5. Bermuka dua dan pandai bersilat lidah

Menghindarkan diri dari sifat nifaq harus menjadi watak setiap muslimin dan muslimat. Adapun upaya untuk menghindarkan diri dari sifat nifaq antara lain selalu menyadari bahwa:

  • Nifaq merupakan larangan agama yang harus dijauhi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Nifaq akan merugikan diri sendiri dan orang lain sehingga dibenci dalam kehidupan masyarakat.
  • Nifaq tidak sesuai dengan hati nurani manusia (termasuk hati munafiq sendiri)
  • Kejujuran menentramkan hati dan senantiasa disukai dalam pergaulan
Akibat Riya' dan Nifaq · Uncategorized

Akibat dari sifat riya’ dan nifaq

A.  Akibat buruk dari sifat riya :

Semua pelaksanaan ajaran agama adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik yang berupa pelaksanaan perintah maupun meninggalkan larangan. Setiap pelanggaran terhadap larangan agama, pasti berakibat buruk bagi pelakunya. Adapun akibat buruk riya antara lain sebagai berikut:

  1. Menghapus pahala amal baik, sebaimana dijelaskan dalam Q.S. Al Baqarah ayat 262: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah: 262).
  2. Menimbulkan kesempitan hidup
  3. Menjadikan amal ibadah yg baik menjadi, batal, berubah buruk, dan berbuah dosa
  4. Terjebak sifat sombong yang menyulitkan diri sendiri
  5. Menghilangkan keimanan dan mendapat siksa akhirat

B. Akibat dari sifat nifaq:

  1. Tercela dalam pandangan allah swt dan sesama manusia
  2. Mendapat siksa yang amat pedih di hari akhir dalam Q.S An-Nisa ayat 145
  3. Menimbulkan kekecewaan hati dan fitnah karena ucapan dan perbuatannya yang tidak menentu

 

EVALUASI

EVALUASI

1. Nifaq adalah perbuatannya, sedangkan orangnya disebut..

a. Munafik

b. Kafir

c. Fasik

d. Murtad

e. Musrik

2. Ingin amalnya diketahui atau dipuji orang adalah pengertian dari

a. Riyak

b. Nifaq

c. Syirik

d. Inkar

e. Murtad

3. Menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan adalah pengertian dari…

a. Kufur

b. Riya’

c. Murtad

d. Syirik

e. Nifaq

4. Contoh dari perbuatan riya’ adalah…

a. Merasa ikhlas setelah melakukan kebaikan

b. Melagukan bacaan Al-Qur’an

c. Mengumandangkan azan dengan suara yang kuat

d. Membaca Al-Qur’an agar dianggap sebagai orang berilmu

e. Sholat dengan khusyuk karena Allah SWT

5. Sifat yang sama dengan riya’ adalah…

a. Kufur

b. Sum’ah

c. Nifaq

d. Murtad

e. Syirik

 

Nifaq

Sifat Nifaq

index

  1. Pengertian Nifaq

Nifaq secara bahasa berasal dari kata naafaqa, dikata pula berasal dari kata an-nafaqa (nafaq) yaitu lubang tempat bersembunyi. Nifaq menurut syara’ yaitu menampakkan Islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain.

Karena itu Allah memperingatkan dengan firman-Nya dalam Surat At-Taubah Ayat 67:

“Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan. Sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itu adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. At-Taubah: 67)

Menurut istilah, nifaq berarti sikap yang tidak menentu, tidak sesuai antara ucapan dan perbuatan. Orang yang memiliki sifat nifaq disebut munafiq. Munafiq sering tidak tertentu, susah diketahui kebenaran ucapannya, sebagaimana susahnya mengetahui tembusan lubang tikus di padang pasir. Oleh sebab itu, orang lain sering tertipu dengan ucapan atau perbuatannya yang tidak menentu.

Islam menegaskan bahwa nifaq amat tercela, baik dalam pandangan Allah maupun sesama manusia. Dalam kehidupan bermasyarakat, sejak zaman Rasulullah SAW. Sampai sekarang, bahkan sampai akhir zaman, munafiq sering menjadi musuh dalam selimut yang sangat membahayakan.

 

Sumber

Riya'

Sifat Riya’

  1. Pengertian-Riya-Kartun-Sombong-BanggaPengertian Riya

Kata riya berasal dari bahasa Arab Arriyaa’u yang berarti memperlihatkan atau pamer, yaitu memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, baik barang maupun perbuatan baik yang dilakukan, dengan maksud agar orang lain dapat melihatnya dan akhirnya memujinya. Kata lain yang mempunyai arti serupa dengan riya ialah sum’ah. Kata sum’ah berasal dari bahasa Arab Assum’atu atau Sum’atun yang berarti kemasyhuran nama, baik sebutannya. Orang yang sum’ah dengan perbuatan baiknya, berarti ingin mendengar pujian orang lain terhadap kebaikan yang dilakukan. Dengan adanya pujian tersebut, akhirnya masyhurlah nama baiknya di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, pengertian sum’ah sama dengan riya. Orang yang riya berarti juga sum’ah, yakni ingin memperoleh pujian dari orang lain atas kebaikan yang dilakukan. Riya adalah melakukan amal bukan karena mengharap ridha Allah, tetapi mencari pujian dan popularitas di mata manusia. Riya merupakan bentuk syirik kecil yang dapat merusak dan membuat ibadah serta kebaikan yang dilakukan tidak bernilai di hadapan Allah. Sikap ini muncul karena orang tak paham tujuan ibadah dan amal yang dilakukan. Setiap ibadah, amal, dan aktifitas lain dalam Islam, harus dilakukan demi mencari ridha Allah SWT.

Riya muncul akibat kurang iman kepada Allah dan hari akhirat serta ketidak jujuran menjalankan agama. Ia beribadah kerana ingin dipandang sebagai orang taat dan saleh. Sikap riya sangat merugikan karena kebaikan dan ketaatan yang dilakukan tidak bernilai di sisi Allah.

Macam-macam riya sebagai berikut:

  • Riya dalam niat

Maksudnya adalah berniat sebelum melakukan pekerjaan agar pekerjaan tersebut dipuji oleh orang lain. Padahal niat sangat menentukan nilai suatu pekerjaan. Jika pekerjaan baik dengan niat karena Allah, maka perbuatan itu mempunyai nilai di sisi Allah, dan jika perbuatan itu dilakukan karena hal lain seperti ingin mendapat pujian, maka perbuatan itu tidak memperoleh pahala dari Allah SWT.

  • Riya perbuatan

Contoh perbuatan ini seperti ketika akan mengerjakan shalat, seseorang akan tampak memperlihatkan kesungguhan dan kerajinan, namun alasannya takut dinilai rendah dihadapan guru dan orang lain. Dia melaksanakan shalat dengan khusuk dan tekun disertai harapan dan mendapat perhatian, sanjungan, dan pujian dari orang lain. Orang yang riya dalam shalat akan celaka.

 

Sumber

HOME

HOME

Media pembelajaran ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah pengembangan bahan ajar. selain itu juga di harapkan agar dapat mempermudah belajar, dan juga bertujuan agar para siswa tidak menjadi siswa yang gaptek sehingga dapat menggunakan teknologi-teknologi yang sudah berkembang pada jaman yang modern ini.

Media pembelajaran ini menjelaskan tentang perilaku tercela yakni riya’ dan nifaq. Sehingga para pelajar dapat memahami ciri-ciri dan akibat dari perilaku tercela riya’ dan nifaq.